Resensi 27 Steps of May
A. Identitas
Film
1. Judul Film : 27 Steps of May
2. Genre
: Drama, Post Traumatic
3. Negara
: Indonesia
4. Durasi
: 112 Menit
5. Tahun : 28 November 2018 (Jogja-NETPAC AFF). Rilis umum 27 April 2019
6. Sutradara
: Ravi Bharwani
7. Produser
:
a) Ravi
Bharwani
b) Rayya
Makarim
c) Wilza
Lubis
8. Penulis
: Rayya Makarim
9. Pemeran
:
a) Raihaanun
(May)
b) Lukman
Sardi (Bapak Mau)
c) Ario
Bayu (Pesulap)
B. Resensi
Film
1. Sinopsis
Film
Film ini menurut beberapa sumber mengambil latar
belakang kejadian Mei 1998. Dimana terjadi banyak peristiwa mengerikan salah
satunya pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa. Peristiwa tersebut
menyisakan luka yang dalam bagi kaum perempuan. Tidak ada kejelasan mengenai
pelaku dan hak mereka yang sudah direnggut. Hal ini mungkin tidak digambarkan dengan jelas
di film. Namun bisa terlihat pada pemilihan nama May pada tokoh utama. Beberapa
scene juga mengucapkan beberapa kalimat bahasa Cina. Makna 27 Steps of
May berdasarkan beberapa sumber tidak memiliki arti yang dalam. Ini hanya angka
biasa dimana bisa saja 29, 30. Hal ini menggambarkan bahwa langkah untuk bebas
dari trauma masa lalu tidak pernah pasti. Namun, beberapa sumber juga
menyatakan makna angka 27 adalah jarak dari kamar May menuju keluar rumah.
Dalam film ini menjelaskan trauma yang dialami May
tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Tapi juga berpengaruh pada Bapak
hal ini digambarkan ketika bapak berhenti mengerjakan taman impiannya namun
ketika May mengalami perubahan yang signifikan Bapak kembali melanjutkan
impiannya. Trauma Bapak juga digambarkan lewat pekerjaan sampingannya sebagai
petinju namun ini bukan sebagai impiannya melainkan hanya sebagai pelampiasan
Bapak terhadap para pemerkosa May. Bapak juga melakukan hal ini sebagai rasa
bersalahnya karena tidak mampu melindungi May.
Film ini diawali dengan adegan May sang tokoh utama
sedang berada di wahana pasar malam. Ia terlihat begitu ceria dan bersemangat.
Dalam perjalanan pulang ia disergap oleh beberapa orang yang melakukan
pelecehan seksual kepadanya. Scene berganti lokasi di halaman depan
rumah. Seorang bapak yang sedang mencat menyadari kedatangan seseorang yang tak
lain adalah anaknya, May. Ia menghampiri May yang sudah dalam kondisi
berantakan. Ia menanyakan apa yang terjadi, namun May hanya dia dan langsung
masuk ke rumah. Di adegan ini sepertinya Bapak May sudah menyadari apa yang
terjadi pada anaknya.
Adegan berlanjut 8 tahun kemudian. Diperlihatkan May
dan kebiasaannya setelah kejadian tersebut. Ia memiliki kamar sederhana yang
merangkap menjadi tempat kerjanya sebagai pembuat boneka dan tempat makan. Ia
memiliki rutinitas dengan pola yang sama setiap harinya. Rutinitas tersebut
antara lain, lompat tali, menyetrika baju, menghias boneka untuk dijual. Tampak
setelah pengalaman pahit tersebut ia mengidap sindrom Obsessive Compulsive
Disorder. Kehidupan May digambarkan lewat warna-warna yang monokrom seperti
putih, abu-abu, cream. Ia bahkan hanya memakan makanan yang berwarna tersebut
seperti nasi, telur putih, tahu, tauge. Berbanding terbalik dengan menu makanan
bapak yang terlihat berwarna. Disini diperlihatkan komunikasi yang hambar
antara May dan Bapak. May tidak pernah berbicara juga tidak berani melakukan
kegiatan di luar kamarnya. Pada adegan ini muncul juga seorang kurir yang juga
merupakan teman bapak. Ia bertugas mengambil barang di pagi hari dan mengantar
bahan kebutuhan pembuatan boneka.
Menanggapi hal tersebut Bapak tidak dapat melakukan
apa-apa. Ia hanya bisa menemani May melakukan rutinitas sehari-hari. Disetiap
paginya ia mengantarkan meja untuk bekerja May. Ia tidak terlihat menuntut May
untuk kembali pada kehidupannya yang dulu. Namun hal ini berbanding terbalik
dengan kepribadian Bapak di luar. Ia merupakan petinju yang terkenal beringas,
dan seperti tidak kenal takut apapun.
Suatu hari, terjadi kebakaran di daerah tempat tinggal
May dan Bapak. Bapak berlari ke kamar dan mengajak May untuk keluar. May
mencoba berdiri dengan arahan bapak. Ia menatap keluar dan timbul rasa ragu, kemudian
kembali berbalik ke kamar. Bapak melihat itu mencengkram tangan May dan memaksa
untuk keluar. Hal ini membuat May teringat dengan kejadian 8 tahun yang lalu.
Ia mengusir bapak dan menutup pintu. Di scene ini diperlihatkan ia
melakukan self harm. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa setiap kali ia
mengingat kejadian tersebut ia melakukan self harm.
Akibat kebakaran tersebut bagian belakang rumah May
tepat di kamarnya terdapat lubang. Lubang tersebut awalnya ditutup dengan
lakban cokelat, namun May menariknya. Dari lubang tersebut terlihat seorang
pesulap dengan kehidupan ajaibnya. Mula-mula interaksi mereka terlihat ketika
May diberikan sebuah kain berwarna merah. Suatu hari tikus dari seorang pesulap
masuk ke kamar May. May menangkap dan menaruh di lubang yang menghubungkannya
dengan tempat pesulap. Pagi harinya May menerima sekuntum bunga Teratai merah
muda dengan kartu ucapan terimakasih karena sudah menjaga tikus tersebut. Sejak
saat itu May selalu mengintip dari lubang ketika sang pesulap sedang melakukan
latihan atau atraksi sulap. Hingga terjadi beberapa perubahan kecil pada May,
ia tersenyum.
Sang pesulap menawarkan bantuan pada May untuk mencoba
beberapa trik sulap. Namun ketika tangan sang pesulap menyentuhnya ia kembali
teringat pada kejadian 8 tahun lalu. Ia kembali melakukan self harm. Namun,
ia mencoba untuk kembali berkomunikasi dengan sang pesulap yang memberikan
bunga plastik berwarna cerah. Hal ini tentunya menimbulkan kecurigaan Bapak, ia
kemudian menceritakan ini pada teman kurirnya yang acapkali mendatangkan dukun,
orang pintar untuk membantu Bapak. Kurir menganggap ini sebagai sebuah
kemajuan.
Kehadiran sang pesulap seolah membawa miracle bagi
kehidupan May. Ia digambarkan tidak terlalu sering melakukan aktivitas
terstrukturnya, ia sering disorot tersenyum. Hal yang paling mengagetkan Bapak
yaitu tatkala ia menghias bonekanya dengan sosok laki-laki. Suatu hari ia
memperkenalkan namanya pada sosok sang pesulap melalui tulisan.
Ketika Bapak ditahan beberapa hari karena hampir
mencelakai lawan tinjunya. May berinisiatif mencoba makanan berwarna. Hal ini
berlanjut hingga Bapak bebas dari tahanan. Bapak yang melihat hal tersebut
kaget namun langsung menukar makanannya dengan makanan milik May. Ia tidak
berani bertanya langsung akan perubahan yang terjadi pada May. Sehingga ia
hanya terdiam dan menceritakan hal tersebut kepada sahabat kurirnya.
Suatu hari sang pesulap hampir meninggal karena gagal
dalam atraksinya. May berlari ke arah pesulap dan menyelamatkan pesulap
kemudian kembali ke kamar. Pada hari selanjutnya May dipeluk oleh sang pesulap
dari balik dinding. Ia diajak kembali ke ruangan pesulap dan diajak
berkeliling. Ia berdansa dengan sang pesulap namun seketika ingatan akan
traumanya kembali. Namun bedanya kali ini diperlihatkan adegan ketika mengingat
hal tersebut May melakukan rutinitas berulangnya bermain lompat tali, merapikan
boneka yang sudah rapi.
Ini merupakan adegan klimaks dimana Bapak melihat sang
pesulap yang mengejar May ke kamarnya. May menjerit namun tidak ingin
menceritakan tentang apa yang dirasakannya. May kemudian kembali pada
rutinitasnya diawal ia menutup lubang yang menjadi penghubung dengan ruangan
pesulap. Ia menghias boneka perempuan menggunakan seragam sekolah.
May kembali mengenang masa itu. Ia menggunakan seragam
sekolah dengan dandanan yang hampir sama 8 tahun lalu. Ia membawa tali masuk ke
ruangan pesulap. Ia mempraktekkan peristiwa naas tersebut di depan pesulap
serta menyuruhnya untuk ikut melakukan penyiksaan seperti para pelaku pelecehan
seksual. Namun, sang pesulap menolak dan terjatuh ketika May mendorongnya. Ia
kemudian mendekati May dan memeluknya.
Adegan berpindah keesokan harinya. May tidak melakukan
rutinitas terstrukturnya. Ia memakai baju berwarna cerah untuk pertama kalinya.
Kemudian ia bertemu dengan Bapak ketika keluar dari pintu. Bapak memeluk Mau
terharu. Dan pada akhirnya Mau berhasil mengalahkan trauma masa lalunya. Ia
berjalan ke luar rumah tempat ia datang di scene pembuka.
2. Kelebihan
Film ini sangat menarik karena mengangkat sejarah
penting dalam perjalanan Negara Indonesia yaitu kerusuhan 1998. Tidak terlalu
banyak konflik yang digambarkan dalam film, hanya fokus pada kehidupan May dan Bapak
serta kehadiran sang pesulap. Film ini tentunya memiliki banyak pelajaran bahwa
penyintas adalah tetap sama seperti manusia pada umumnya. Trauma yang mereka
rasakan tidak patut untuk kita benci dan salahkan. Kita hanya perlu menemani
dan membantu para penyintas dalam mengobati trauma mereka hal ini digambarkan
dengan sosok kurir yang setiap membantu Bapak. Meskipun mungkin tidak masuk
akal baginya trauma yang sudah sekian lama namun tetap membatasi ruang gerak
Bapak dan May. Bapak dan May hanya perlu keajaiban dan usaha. Sehingga keduanya
dapat bergerak maju dan dapat berdamai dengan hal tersebut.
Secara teknis kelebihan film ini sangat menarik.
Terlibat dari spot angle kamera yang menyorot hal-hal kecil namun sarat
makna. Hal ini terlibat pada makanan yang May makan. Minim konflik dan terlihat
lebih fokus pada tema yang diangkat.
3. Kekurangan
Dalam film ini tidak begitu banyak kekurangan yang
dapat saya amati. Dari isi film mungkin kekurangan dapat dilihat dari sulitnya
memahami perasaan yang akan disampaikan oleh para tokoh. Hal ini dikarenakan
minimnya dialog, dan lebih banyak fokus pada kegiatan para tokoh. Sehingga jika
tidak fokus kita seperti tidak dapat menangkap makna film ini. Isi film juga
terlihat membosankan di bagian rutinitas May, namun bisa dipahami karena pesan
film ini adalah rutinitas May yang cenderung terstruktur karena ia tidak
menyukai sesuatu yang terlihat spontan dan tidak terduga.
Tidak adanya penggambaran tindakan kepada para
pemerkosa menurut saya merupakan kekurangan. Hal ini tidak tahu sebagai
sindiran akan pelaku pemerkosaan yang tidak diadili di luar sana atau
bagaimana. Namun menurut saya tidak adil sekali tidak diperlihatkan tindakan
atas pelaku kejahatan.
Kekurangan selanjutnya yaitu kehadiran sang pesulap.
Mungkin dapat ditarik kesimpulan bahwa sang pesulap merupakan miracle bagi
May. Namun penggambarannya yang tiba tiba terlibat tidak masuk akal. Apakah ia
merupakan imajinasi May ? Namun jika hanya imajinasi terlihat ada adegan bapak
melihat barang-barang yang diberikan oleh pesulap untuk May. Bapak juga pernah
bersinggungan langsung dengan sang pesulap.
Pemilihan tone warna yang menurut saya kurang,
karena di beberapa adegan terlihat gelap. Untuk selanjutnya yaitu suara, dimana
perubahan adegan Bapak dan May memiliki kontras suara yang jauh berbeda.
Tentunya hal ini mengangetkan.

Komentar
Posting Komentar